Jombang, Informasipro – Gemuruh gendang dan aroma dupa memenuhi udara pagi di Desa Keras, Kecamatan Diwek, Sabtu (10/8/2024). Ratusan warga berpakaian adat Jawa berkumpul untuk mengikuti ritual tahunan Sedekah Bumi, sebuah tradisi yang menjembatani masa lalu dan kekinian.
Prosesi dimulai tepat pukul 07.00 WIB dari Dusun Mejono. Iring-iringan warga membawa aneka hasil bumi dalam keranjang anyaman bambu, mengelilingi desa dengan penuh suka cita. Rute akhir prosesi adalah Punden Sentono Agung, lokasi yang diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir para leluhur desa.
“Sedekah Bumi bukan sekadar ritual. Ini adalah wujud syukur kami atas berkah yang telah diterima sepanjang tahun,” ujar Kepala Desa Keras, Sukardi, dalam sambutannya. Ia menambahkan bahwa acara ini juga menjadi momen penting untuk memperkuat ikatan sosial antar warga.

Tahun ini, panitia menggabungkan unsur tradisional dengan sentuhan modern. Di samping prosesi adat seperti pembakaran kemenyan dan tabur bunga, diadakan pula lomba fotografi dan pembuatan video pendek bertema Sedekah Bumi. “Kami ingin generasi muda juga terlibat dan bangga dengan warisan budaya ini,” jelas Dewi, koordinator acara.
Puncak acara adalah perebutan gunungan setinggi 2,5 meter yang berisi hasil bumi dan jajanan tradisional. Menariknya, tahun ini gunungan dibuat dengan konsep ramah lingkungan, menggunakan material daur ulang dan hiasan dari bahan alami.
“Sedekah Bumi bukan hanya tentang bersyukur, tapi juga mengingatkan kita untuk menjaga alam,” kata Mbah Joyo (75), sesepuh desa yang memimpin doa.
Tidak ketinggalan, stan-stan UMKM lokal memeriahkan acara dengan menjajakan produk khas desa, mulai dari batik hingga jajanan tradisional dengan kemasan modern. “Ini kesempatan emas bagi kami para pengusaha kecil untuk memperkenalkan produk,” ujar Siti, salah satu pemilik stan.
Menjelang sore, acara diakhiri dengan pertunjukan wayang kulit yang mengangkat tema pelestarian lingkungan. Ki Wahyu, sang dalang, mahir memadukan pesan-pesan konservasi alam dalam alur cerita klasik pewayangan.
Sukardi optimis tradisi ini akan terus berkembang. “Tahun depan, kami berencana mengundang komunitas pegiat budaya dari kota-kota besar. Sedekah Bumi bisa menjadi jembatan antara desa dan kota,” ungkapnya.
Sedekah Bumi di Desa Keras membuktikan bahwa tradisi leluhur bisa tetap relevan di era modern. Dengan kreativitas dan adaptasi, nilai-nilai luhur warisan nenek moyang dapat terus dilestarikan tanpa kehilangan esensinya. (SH)









