Informasipro.com
Jombang – Sebagai Ketua Komite Mutu RSUD Ploso, Jombang, dr Dian Fathul Jannah SpOG, harus memahami berbagai aspek pelayanan rumah sakit.
Mulai dari sistem kerja hingga potensi risiko yang dapat mempengaruhi kualitas pelayanan.
Melalui peran tersebut, ia banyak belajar tentang manajemen pelayanan kesehatan. Serta pentingnya kerja sama antartenaga medis dan nonmedis.
Baginya, setiap tanggung jawab yang diberikan merupakan kesempatan untuk terus belajar dan memberikan kontribusi lebih luas.
Ia memiliki cara pandang tersendiri dalam menjalani berbagai peran tersebut. Baginya, setiap tantangan hidup merupakan bagian dari proses pembelajaran.
”Saya selalu memaknai bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup ini adalah cara Tuhan mendidik kita,” katanya.
Dengan keyakinan tersebut, dr Dian menjalani setiap hari dengan semangat untuk tetap memberi manfaat bagi orang lain.
Selama masih diberi kesehatan dan kesempatan, ia berharap dapat terus menjalankan profesinya dengan sebaik mungkin.
Serta membantu sebanyak mungkin pasien yang membutuhkan.
Sebagai dokter spesialis kandungan, ia juga harus menjalani ritme kerja yang tidak mengenal waktu.
Telepon dari rumah sakit bisa datang kapan saja untuk melaporkan kondisi pasien atau meminta keputusan medis.
“HP wajib on 24 jam,’’ ujarnya.
Bahkan di malam hari, ia tetap harus siap menerima konsultasi dari tenaga kesehatan yang menangani pasien di ruang perawatan.
’’Dokter kandungan itu tidak bisa benar-benar mematikan telepon. Perkembangan pasien harus terus dipantau,’’ katanya.
Dipantau sesuai dengan perubahan ibu maupun bayi dalam kandungan. Sehingga pasien betul-betul tertangani sesuai dengan indikasi yang ada.
Pasien yang diprediksi bisa lahir normal maka diupayakan lahir normal.
Situasi seperti itu membuat waktu istirahat sering kali terpotong. Namun baginya, hal tersebut sudah menjadi bagian dari tanggung jawab profesi.
Meski demikian, ia menyadari pentingnya menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kesehatan diri.
Karena itu ia memilih membatasi jumlah pasien yang ditangani setiap hari agar tetap dapat bekerja secara optimal.
’’Sebagai dokter perempuan, saya sadar fisik juga ada batasnya. Jadi saya membatasi jumlah pasien supaya pelayanan tetap maksimal,’’ tuturnya.
Di balik kesibukannya sebagai dokter spesialis kandungan, dr Dian menjalani kehidupan yang penuh tantangan sekaligus keteguhan.
Belajar dari kedua orang tuanya yang moderat dalam mendidik, dr Dian tidak pernah memaksa kedua anaknya menjadi dokter.
Dia terus mendukung anak-anaknya sesuai dengan passion masing-masing.
Kini kedua anaknya, Amany Jylan Irfani, dan Nadiah Dina Fitri Irfani telah beranjak dewasa dan sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Meski ibunya berprofesi sebagai dokter, keduanya tidak memilih jalur yang sama.
Saya tidak pernah memaksakan pilihan profesi kepada anak-anak,’’ ucapnya.
“Ia justru selalu menekankan pentingnya memilih pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kenyamanan diri.
’’Yang penting itu passion. Karena pekerjaan itu akan dijalani sepanjang hidup,’’ tegasnya.
(Angga)
Penulis : Angga









